pancuran25

Mencintai ilmu pengetahuan

BOS Gagal Mendidik Bangsa


BOS? KENAPA?

Penulis: Sudarjat

Sejauhmanakah peran BOS dalam mendorong Wajib Belajar 9 tahun?

BOS kurang berfungsi. Itulah penilaian sementara penulis terhadap program yang satu ini. BOS yang dipercaya pemerintah dapat mendorong agar anak usia sekolah dapat terus bersekolah kurang berfungsi. Pengalokasian dan pengelolaannya tidak optimal. Birokrasi membuat pengelolaan dana BOS begitu rumit. Sosialisasi yang tidak benar membuat sekolah memahami BOS secara tidak utuh. Akibatnya banyak sekolah yang frustasi. BOS digunakan untuk meningkatkan mutu kehidupan pribadi, bukan mutu pendidikan.

Mayoritas masyarakat kecil menganggap BOS tidak membantu. Hal ini karena harga-harga kebutuhan pokok meningkat dengan deras. Sementara anak yang sekolah tetap saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Masyarakat miskin tetap saja tidak mendapatkan pendidikan secara gratis. Hanya gratis SPP dan iuran ulangan semester yang besarnya sekitar 5.000-7.000 per tahun sebelum mendapatkan BOS.

Wajar DIKDAS 9 tahun

Wajib Belajar 9 tahun merupakan program pemerintah yang patut diacungi jempol. Program ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin melaksanakan amanat Pembukaan UUD 1945. sekaligus juga sebagai langkah menghargai jasa pahlawan kemerdekaan. Tujuannya hanya satu, ingin anak bangsa ini cerdas dan siap saing dengan anak bangsa lain. Dalam artian yang lebih tepat adalah peningkatan mutu pendidikan. Sudahkah tujuan ini tercapai? Benarkah anak bangsa yang berusia 7 – 14 tahun semuanya sekolah? Khususnya di kabupaten Bogor, yang demikian itu belum terjadi. Masih banyak anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Alasannya bermacam-macam. Faktor ekonomi merupakan faktor penyebab terbesar.

Banyak faktor yang harus dibenahi dalam rangka menuntaskan Wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun. Diantaranya adalah:

1. Faktor pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan formal.

Sebagian masyarakat masih ada yang menilai sekolah adalah sesuatu yang haram. Pemahaman ini begitu kuat karena berkaitan dengan unsur pemahaman agama. Hal ini tentunya perlu dipikirkan secara seksama. Kita harus mencari solusi yang tepat. Pemahaman ortodoks warisan Penjajah ini harus dikikis habis. Walau demikian, tetap saja kita harus mengutamakan unsur musyawarah dan silaturahmi. Cara yang dapat dilakukan untuk menisbikan faktor ini adalah dengan silaturahmi. Setiap pejabat pemerintah, praktisi pendidikan harus banyak bersilaturahmi dan berdiskusi dengan  masyarakat yang berpemahaman demikian.

2. Faktor mutu lulusan sekolah

Mutu lulusan menjadi salah satu faktor pemikat orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Mutu lulusan sekolah saat ini masih di bawah rata-rata (tidak menarik) untuk orang lain. Maka dari itu pihak sekolah harus meningkatkan mutu pendidikan siswa-siswinya. kemampuan kepala (berpikir), hati (rasa dan adab) dan kemampuan tangan (kreatifitas) siswa harus terus ditingkatkan. Kita harus membuktikan sosok pendidikan yang sebenarnya, bukan hanya lembaga pendidikan berorientasi industri/capital.

3. Faktor Ekonomi

Jika taraf ekonomi masyarakat stabil, tentunya keinginan untuk menyekolahkan anaknya pun akan meningkat. Siapapun orangtua, pasti ingin anaknya pintar dan cerdas. Yang membuat mereka berat adalah kebutuhan ekonomi. Banyak keperluan sekolah yang berkaitan dengan uang. Buku tulis, ballpoint, pakaian, sepatu, tas, pensil dan banyak lagi yang lainnya. Hal-hal inilah sebenarnya yangs erring menjadi permasalahan keengganan anak bersekolah/ orang tua menyekolahkan.

BOS yang dipercaya dapat meringankannya tak berfungsi. Masalahnya BOS bukan hanya dinikmati oleh anak-anak miskin. Anak-anak pejabat/orang kaya juga menikmatinya. BOS yang diterima sekolah tidak bisa digunakan dengan baik oleh sekolah. Program-program dinas selalu menjadikan dana BOS sebagai tulang punggung pendanaan. Akhirnya dana BOS habis hanya untuk transport rapat dinas, poyek pelatihan dan pembinaan yang tidak bermutu, proyek Ulangan Mid Semester, Ulangan Semester, Ujian Sekolah, Tes Uji Mutu, Tes Kemampuan Dasar dan pembelian buku-buku administrasi yang membuat guru jadi malas dan bodoh. Belum lagi Monitoring dan Evaluasi yang mewajibkan salam amplop. Bukan hanya dari dinas, yang lebih parah adalah berkeliarannya Forum-forum wartawan yang mengatasnamakan monitoring public. Tapi ujung-ujungnya tetap saja minta ongkos bensin. Ha… ha..

Akibat dari itu semua, segala program peningkatan mutu pendidikan yang dirancang oleh guru mentok. Faktor pendanaan menjadi kendala utama. Ujung-ujungnya kembali kepada siswa dan orang tua.

Dimana Dewan Sekolah Kabupaten Bogor?

Dewan yang seharusnya menjadi lembaga pengawasan dan rekanan kerja dinas pendidikan ini bagai LILIWA. Punya nama tapi tak punya kerja. Dewan sekolah atau Komite sekolah seharusnya lebih berperan dalam pengawasan dana BOS di sekolah dan Dinas Pendidikan, tapi bukan mencurigai. Setelah dapat amplop lalu biarlah. Komite Sekolah dan Dewan Sekolah harus dihidupkan dan difungsikan dengan benar. Bila perlu didanai  sepenuhnya oleh APBD Kabupaten atau Propinsi. Adakan pembinaan yang berkesinambungan, bukan pembinaan yang berorientasi proyek-tiada tindak lanjut.

Peran Dewan sekolah dan komite sekolah harus diaktifkan lagi. Karena di tangan merekalah sebenarnya pengawasan independent. Mudah-mudahan dengan aktif dan lurusnya kerja mereka, pengelolaan dana BOS dapat lebih dioptimalkan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Janganlah kita memberikan tauladan kebohongan dan manipulasi kepada anak bangsa ini.

April 3, 2011 - Posted by | Referensi Guru

2 Komentar »

  1. Tulisan kapan tuh kang…BOS itu dapat meningkatkan jumlah anak yang melanjutkan ke SMP

    Komentar oleh Imas | April 3, 2011 | Balas

    • Hehe…itu waktu saya belajar nulis di ICW neng tahun 2007

      Komentar oleh pancuran25 | April 3, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: